Ketum SMSI Paparkan Tantangan Berat Dan Kondisi Ekstrim Yang Dihadapi Media Siber

Nusantara  RABU, 26 JULI 2017 , 17:18:00 WIB

Ketum SMSI Paparkan Tantangan Berat Dan Kondisi Ekstrim Yang Dihadapi Media Siber

Teguh Santosa/RMOL

RMOL. Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Teguh Santosa menegaskan tantangan media siber hari ini jauh lebih berat.

Mengelola media siber ini jauh lebih berat di televisi atau koran. Tantangan luar biasa, masalah dan tanggung jawabnya luar biasa. Inijadi tantangan luar biasa.  Masalah dan tanggung jawabnya pun luar biasa,” tegas Teguh dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pertama SMSI di Hotel Harris Jalan Bangka, Surabaya, Jawa Timur (26/7).

Teguh mengatakan salah satu tantangan yang cukup berat yakni kebebasan yang sudah menjadi platform terbesar di dunia siber dan juga kabar bohong (hoax) yang sudah menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

"Kita dihadapkan dua ekstrim, yaitu otoritas dan kebablaasan. SMSI ini jadi semacam clearing house untuk menentukan apa sebenarnya fakta. Kita memang harus bekerja keras. Menjadikan SMSI sebagai konsituen Dewan Pers hal kedua. Menjadikan media siber yang sehat itu hal penting ketiga," kata Teguh.

SMSI juga kata Teguh harus dapat membuat produk, aplikasi khas Indonesia. Lawan terberat untuk memenuhi hal itu kata Teguh adalah masifnya perkembangan media sosial.

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan rakernas perdana ini merupakan kelanjutan dari rapat Pleno Pengurus Pusat yang berlangsung beberapa waktu yang lalu di Tangerang. Rapat pleno tersebut merekomendasikan untuk segera menyiapkan untuk mendaftarkan diri sebagai konstituen Dewan Pers.

Syarat minimal yang diminta Dewan Pers minimal 15 provinsi dan 200 perusahaan media online sudah dipenuhi bahkan melampaui target yang diharapkan. Saat ini SMSI sudah dibentuk di 27 provinsi. Teguh menekankan pada dasarnya SMSI merupakan bagian dari Dewan Pers.

"SMSI didirikan justru untuk membantu Dewan Pers, sehingga dengan keterbatasan itu khusus mengurus media siber. Yang kita bantu bukan hanya Dewan Pers tetapi juga bangsa ini,” tegas Teguh.

SMSI kata dia menjadi puncak dari keprihatinan semua pihak terhadap praktik media khususnya di dunia siber. SMSI sendiri berdiri 17 Maret 2017 namun keinginan untuk mengorganisir diri jauh dilakukan sebelum Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon. Ambon menjadi momentum besar dunia pers dan juga media online.

Teguh mengatakan media siber di Indonesia tumbuh bagai jamur di musim hujan dan harus memenuhi syarat verifikasi baik administrasi maupun faktual. Dari 77 perusahaan media  online, baru 7 perusahaan media online yang diumumkan Dewan Pers pada HPN di Ambon pada bulan Februari lalu.

Rapat kerja perdana bertajuk "Membangun Industri Media Siber yang Sehat" itu sengaja dilakukan untuk membahas langkah strategis organisasi di masa mendatang.

Tak ketinggalan, dialog seputar media siber juga digeber dengan menghadirkan beberapa narasumber nasional di antaranya Menteri Kominfo RI Rudiantara, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, pendiri Jawa Pos Dahlan Iskan dan mantan Menteri Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli. Dahlan dan Rizal merupakan penasihat organisasi yang menampung para pemilik media siber ini.[san]

Komentar Pembaca
KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

Sikap Panglima TNI Disesalkan

Sikap Panglima TNI Disesalkan

JUM'AT, 07 JULI 2017 , 23:00:00

Obat Kuat untuk Bareskrim

Obat Kuat untuk Bareskrim

RABU, 26 JULI 2017 , 17:15:00