Media Itu Anjing Penjaga, Bukan Pujangga Istana

Oleh: Hersubeno Arief

Opini  SELASA, 01 JANUARI 2019 , 17:48:00 WIB | LAPORAN: N. AJI

Media Itu Anjing Penjaga, Bukan Pujangga Istana

Foto/Net

MEDIA itu anjing penjaga (watchdog) demokrasi, bukan humas, apalagi pujangga istana. Sayangnya, bila kita amati secara seksama, media di Indonesia saat ini fungsinya sudah berubah 180 derajat.

Media-media arus utama (mainstream) kebanyakan sudah menjadi alat penguasa. Mereka sangat galak dan rajin menggonggong kepada kelompok oposisi dan masyarakat madani. Sebaliknya menjadi alat legitimasi, berbagai kebijakan pemerintah. Dalam beberapa kasus, bahkan menjadi bagian dari operasi mendeligitimasi oposisi.

Banyak fakta seputar ini. Yang paling kontroversial dan banyak dibicarakan adalah aksi sejumlah media arus utama  menenggelamkan pemberitaan seputar Reuni 212. Peristiwa ini  bisa menjadi studi dan pembahasan yang menarik tentang eksistensi media di Indonesia saat ini.

Banyak yang bertanya, mengapa media harus selalu bersikap kritis terhadap pemerintah. Sebaliknya banyak juga yang  berargumen, apa yang salah media membela pemerintah?

Secara alami dan sisi idealisme, tugas media bukan membela pemerintah. Itu adalah tugas humas pemerintah. Secara lugas pendiri harian Kompas P.K. Ojong menyatakan: Tugas pers bukanlah untuk menjilat penguasa tapi untuk mengkritik yang sedang berkuasa.”


Komentar Pembaca
Ambulance Gratis Untuk Caleg Stres

Ambulance Gratis Untuk Caleg Stres

SABTU, 27 APRIL 2019 , 10:20:00

Prabowo Jenguk Korban Kerusuhan

Prabowo Jenguk Korban Kerusuhan

KAMIS, 23 MEI 2019 , 00:14:00

Markas Polsek Kebanjiran

Markas Polsek Kebanjiran

SENIN, 29 APRIL 2019 , 08:13:00

The ads will close in 10 Seconds