Nasionalisme Mualem

Opini  SABTU, 01 JUNI 2019 , 18:03:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Nasionalisme Mualem

Muzakir Manaf atau Mualem/Net

MANTAN Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mualem akhirnya bersuara. Sebagai sosok penting di Aceh maupun dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) suaranya nyaring hingga membuat Jakarta panik. Suaranya ibarat aungan ‘singa’ di tengah belantara hewan-hewan yang sedang saling memangsa. Semua terdiam, menunggunya kembali bersuara.

Namun ia memilih melihat situasi, memilih menyaksikan reaksi dari ucapannya. Tuduhan negatif dan dukungan silih berganti datang. Sang Panglima masih diam, ia menunggu sambil mengamati siapa kawan siapa lawan. Ejekan datang ia bergeming, pujian datang ia tak jumawa. Ia memang ahli Dzikir, setidaknya pernah penulis saksikan ketika suatu malam di mesjid Simpang 7 Ulee Kareng.

Jika kita analisa dengan hati bersih dan pikiran jernih serta akal sehat, pernyataan Mualem merupakan bentuk motivasi bagi bangsa Indonesia. Ia ingin bangsa Indonesia tidak dijajah asing, itu sebabnya ia tawarkan referendum agar para elite waspada. Tapi narasinya itu disalahpahami, seolah-olah Aceh ingin merdeka, ingin berpisah dari NKRI tanpa alasan. Mualem mengajarkan cara berpancasila yang benar, sebuah bangsa tidak boleh dijajah sebagaimana pembukaan UUD 45. Mualem paham sekali Pancasila.

Melalui motivasi Mualem semua sadar bahwa bangsa Indonesia terancam dijajah dan tidak semua daerah rela hal itu terjadi, termasuk Aceh. Mualem menyadarkan pentingnya kesadaran kolektif bangsa ini, kesadaran akan bahaya asing yang ingin menjajah Indonesia. Aceh ingin menjadi daerah pertama yang menyadarkan itu kepada para elite Jakarta. Salah tafsir memang selalu menjadi persoalan bangsa ini, emosional dan sok nasionalis sehingga menafsirkan rasa cinta pada negara sebagai bentuk pemberontakan.

Referendum dengan opsi mau dijajah asing atau tidak, begitulah keinginan Mualem. Ia menyadarkan kepada kita semua bahwa biarlah miskin asal merdeka, bukankah Pancasila mengatakan demikian. Cara pandang negatif kemudian memvonis Mualem, padahal ucapannya perlu dicerna dengan seksama. Mengapa hanya fokus pada kata ‘referendum’ dan melupakan kata atau kalimat sebelum itu. Ia mendasarkan keinginan referendum apabila Indonesia dijajah asing, jadi bukan soal tidak suka dengan pusat.


Komentar Pembaca
Selamat Datang Nahkoda (Baru) KPK

Selamat Datang Nahkoda (Baru) KPK

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019

Membangun Papua Dengan Cinta

Membangun Papua Dengan Cinta

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019

Negara ‘Sales’ Mengiba Pada Rakyat

Negara ‘Sales’ Mengiba Pada Rakyat

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019

Jam Dinding, Seprai Dan Kacang Rebus Dari Eyang Habibie
Sebaiknya KPK Dibubarkan Saja

Sebaiknya KPK Dibubarkan Saja

JUM'AT, 13 SEPTEMBER 2019

Mengenang BJ Habibie, Saat Nasehati Sang Adik Yang Berduka Kehilangan Istri
Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 , 01:14:11

Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 , 06:44:37

JOKOWI TERUJI BERPENGALAMAN DALAM HAL KEGAGALAN

JOKOWI TERUJI BERPENGALAMAN DALAM HAL KEGAGALAN

KAMIS, 12 SEPTEMBER 2019 , 00:45:19

Pembantaian Keji Serda Rikson

Pembantaian Keji Serda Rikson

SABTU, 31 AGUSTUS 2019 , 06:54:00

Titiek Soeharto Bersama Petinggi Malaysia

Titiek Soeharto Bersama Petinggi Malaysia

JUM'AT, 02 AGUSTUS 2019 , 11:42:00

Tiga Anggota Polsek Wonokromo Naik Pangkat

Tiga Anggota Polsek Wonokromo Naik Pangkat

SELASA, 20 AGUSTUS 2019 , 08:49:00

The ads will close in 10 Seconds